Tips Mengelola Keuangan Agar Tak Sampai Berhutang



[postlink]http://gillaullikcreation.blogspot.com/2011/08/tips-mengelola-keuangan-agar-tak-sampai.html[/postlink]
Agar keuangan tidak jebol di tengah jalan, berikut saya berikan tips yang berguna untuk mengatur keuangan anda:
1. Sisihkan minimal 10 persen dari penghasilan anda tiap bulan untuk ditabung.
2. Jika mendapatkan bonus pergunakan maksimal 50 persen dan sisanya ditabung.
3. THR atau gaji ke 13 sebaiknya digunakan untuk menambah tabungan bukan sebaliknya, yaitu digunakan untuk keperluan yang tidak mendesak.
Saya yakin jika hal ini dilaksanakan, anda tidak perlu mencari pinjaman saat ada keperluan yang sangat mendesak.
Sementara para ekonom asyik berdebat mengenai Amerika yang tengah menuju resesi, kita sebagai konsumen juga merasakan dampaknya misal harga-harga yang kian melangit yang tak lagi tertandingi oleh kenaikan pendapatan. Kita tak bisa mengontrol harga karena itulah risiko dari mekanisme pasar yang dibiarkan bebas, namun ada hal yang bisa kita atur terkait dengan keuangan sebagai upaya perlindungan di masa datang saat arah perekonomian tak bisa kita baca.
Ada sejumlah ide sederhana yang dapat kita lakukan untuk mengantisipasi masa sulit yang kita tidak tahu kapan datangnya. Tips berikut juga memuat bagaimanacara kita mengatur keuangan saat masa sulit itu datang lebih awal. Nah, simak ya…
1. Kurangi hal tidak penting
Satu cara menghindarinya adalah dengan cara berbelanja menurut kebutuhan, bukan keinginan. Caranya bikin daftar belanja dan berusaha patuh pada daftar itu.
“Lakukan dengan penuh disiplin, jangan biarkan hati mengalahkan rasio saat belanja,” saran Nancy Register, associate director untuk Consumer Federation of America. Ric Edelman, Certified Financial Planner dan penulis “The Truth About Money” setuju dengan pendapat itu.
“Anda harus pastikan tidak berbelanja di luar daftar yang sudah ditetapkan. Atau Anda akan menyesal telah berlaku boros di saat harus berhemat.” Jika Anda punya anak yang menuntut dibelikan ini itu, Linda Sherry, director of national priorities for Consumer Action. Edelman menyarankan,”Ini saat yang tepat untuk menjelaskan kepada mereka mengenai artinya kebutuhan dan keinginan.”
2. Sisihkan dana darurat
Setiap keluarga punya kebutuhan keuangan yang berbeda, namun adakalanya mereka lupa menyisihkan dana cadangan yang akan sangat bermanfaat di masa sulit. Ada yang memang menabung, namun sekenanya saja, asalkan menyisihkan pendapatan. Padahal seharusnya tidak demikian.
“Anda perlu meningkatkan cadangan dana lebih banyak,” saran Edelman. Cobalah untuk membuka tabungan khusus yang memang hanya digunakan di saat darurat, deposito berjangka dan lain-lain yang likuid alias dapat cepat dicairkan saat dibutuhkan. Anda kesulitan menentukan besaran yang harus disisihkan?
“Alokasikan minimal 10% dari gaji yang Anda peroleh setiap bulan,” saran Gail Cunningham, juru bicara untuk National Foundation forCredit Counseling . Jika Anda tak bisa disiplin, minta bank mendebet langsung sebanyak 10% atau nilai yang disepakati begitu gaji masuk ke rekening.
3. Kurangi pos-pos biaya yang kurang perlu
Jika meniadakan acara makan di restoran bersama keluarga sama sekali tidak memungkinkan, maka kurangilah frekuensinya. “Akan lebih efektif untuk mengurangi ketimbang meniadakan sama sekali,” ujar Cunningham, “karena mengubah kebiasaan memang luar biasa sulit.”
Diskusikan hal ini dengan keluarga agar mereka memahami yang tengah terjadi. “Usahakan anggota keluarga mengarah pada tujuan yang sudah ditetapkan. Jadi tak terjadi pemborosan yang tidak perlu.”
4. Giat bekerja
Meski pekerjaan menjemukan, namun jika belum menemukan penggantinya, tetaplah bekerja. Pokoknya amankan posisi Anda di perusahaan sekarang. Jangan lupa memupuk jaringan yang akan banyak membantu Anda kelak. Yakinkan bahwa Anda memang layak dipertahankan, juga dipromosikan.
“Buatlah diri Anda sebagai orang yang layak diajak terlibat dalam sebuah tim yang hebat,” saran Martin Yate, pelatih eksekutif karyawan dan juga penulis buku laris “Knock ‘Em Dead 2008: TheUltimate Job Search Guide.”
Tiga kunci pokok yang dapat membuat Anda ‘dilihat’ adalah analisis kembali berapa besar Anda berkontribusi pada perusahaan, serta jangan takut untuk meningkatkan peran yang menyumbang pada kesuksesan perusahaan. Kedua, selalu update dengan perkembangan terbaru, melanjutkan sekolah misalnya. Ketiga, terlibatlah dalam setidaknya satu organisasi profesional yang terkait dengan profesi Anda. Tak hanya update dengan perkembangan, namun jejaring dari sini juga dapat Anda gunakan di masa sulit.
5. Bersiaplah untuk hal darurat
Anda harus realistis. Jika perusahaan sekarang dalam bahaya, siap-siaplah meng-update resume dan mulai berburu pekerjaan baru. Manfaatkan informasi dari jejaring Anda. Saat perusahaan kolaps, Anda tinggal ‘lompat’ ke tempat baru.
6. Jagalah utang tetap terkontrol
Hanya gunakan kartu kredit untuk kondisi darurat dan usahakan membayar penuh di akhir bulan. Jangan hanya membayar minimal 10% dari total tagihan karena hanya akan menyebabkan beban bunga berbunga. “Jika tidak ada uang, hentikan belanja untuk hal yang tidak perlu. Jangan bergantung pada kartu kredit,” saran unningham.
7. Siapkan dana pesiun
Jika perusahaan tidak memberikan dana pensiun, persiapkan dana pensiun sendiri. Entah melalui asuransi atau dana pensiun lembaga keuangan (DPLK). “Anda harus menyiapkannya. Jangan menunggu perusahaan memberikannya untuk Anda,” saran Edelman.
8. Periksa kembali asuransi Anda.
Anda tak mau terlalu banyak asuransi kan? Makanya cek lagi, apakah asuransi yang Anda miliki sudah cukup, kelebihan atau malah kurang. Sesuaikan saja dengan kebutuhan Anda. Kalau bisa, carilah asuransi yang memenuhi kebutuhan Anda namun dengan premi yang terjangkau.